Jumat, 16 Desember 2011


BAB I
PENDAHULUAN
I.I LATAR BELAKANG

Fluvial merupakan aktivitas aliran sungai, terdapat empat macam sungai yaitu straight, anastomosing, meandering dan braided. Sungai anastomosing dipisahkan oleh pulau alluvial permanen, yang ditutupi tumbuhan yang lebat yang distabilisasi oleh bank sungai. braiding (anyaman) juga naik dengan cepat, fluktuasi cepat pada pemberhentian sungai, kecepatan tinggi dari pasokan sedimen kasar, dan mudah tererosi.
1.2 PEMBATASAN MASALAH
1.1.2 Morfologi hasil proses fluvial
1.1.2 Dasar dan syarat pembentukan morfologi hasil pengerjaan air tanah dan morfologi                                                                                                                                                                         karst   
1.3 PERUMUSAN MASALAH
1.1.3 Apakah yang di maksud dengan Morfologi hasil proses Fluvial ?
1.2.3 Apakah yang di hasilkan proses fluvial ?
               
 1.4 TUJUAN  PENULISAN
Untuk  menambah pengetahuan pembaca tentang Morfologi hasil proses fluvial,dasar dan syarat pembentukan morfologi hasil pengerjaan air tanah dan morfologi karst,sebagai referensi untuk pembaca.



BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Morfologi hasil proses fluvial
                Pada bagian terdahulu telah diuraikan bahwa air mengalir membawa material, mengikis ,dan mengendapkan di suatu tempat dimana tenaga sebagai pengangkut tidak lagi kuat. Material yang diendapkan tersebut baik bersifat sementara maupun untuk waktu yang lebih lama. Pengendapan akan dapat terjadi jika :
·         Lembah sudah ada pada tingkat keseimbangan dengan local base level atau common base level.
·         Terjadinya penenggelaman/pemerosotan hingga lembah tersebut menjadi lembah tenggelam atau lembah menjadi lebih landai.
·         Penangangkatan daerah laut dan dasar laut naik, sehingga seolah-olah aliran air terbendung pada daerah yang dekat dengan common base level yang menyebabkan terjadinya pengendapan.
·         Perubahan penutupan vegetasi.dalam hal ini jika di artikan daerah yang gundul/tandus erosi kuat dan bahan yang diangkut banyak.jika daerah yang dilalui vegetasinya lebat, maka erosi kecil dan muatan sedimen kecil, dan bahan yang diendapkanpun kecil.
·         Perubahan relief dari curam kedataran atau ke daerah yang lebih landai, sehingga terjadi proses pengendapan. Contohnya terbentuk endapan kipas fluvial.
·         Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan di atas, maka dapat dikemukakan bahwa sedimentasi itu dapat terjadi apabila:
a.       Daya angkut air yang mengalir berkurang sebagai akibat berkurangnya kecepatan pengaliran atau terhenti sama sekal, kemiringan lembah yang semakin kecil serta adanya rintangan-rintangan.
b.      Bahan yang diangkut berlebihan, sehingga daya angkut berkurang,morfologi hasil pengendapan sungai kurang mendapat perhatian dibandingkan dengan morfologi hasi erosi.
Hal ini disebabkan karena :
a.   Bentuk lahan hasil erosi lebih jelas,baik pada peta topografi maupun di lapangan.
 b.   Bentuk lahan asal bentukan erosi dapat meliputi daerah yang lebih luas dibandingkan dengan hasil pengendapan.
       Bentuk lahan bentukan asal proses fluvial ini berhubungan dengan daerah penimbaunan atau sedimentasi, misalnya pada lembah sungai dan dataran alluvial dengan tenaga geomorfologi yang utama adalah air. Ada beberapa hasil asa proses fluvial seperti dikemukakan berikut ini.
     1.Dataran alluvial                                      
     2.Tanggul alam
     3. Kipas alluvial
     4. Delta
     5. Ledok fluvial
     6. Sungai mati
     7. Dataran banjir
     8. Crevasse-Splaye
     9. Lakustrim
     10. Ras alluvial
     11. Rawa belakang
     12. Kipas fluvial
     13.Poin bars
Sungai yang mempengaruhi system fluvial adalah :
1.  Straight yaitu Suatu channel dengan bentuk straight didominasi oleh lempung dengan intensitas kelokan yang kecil, terbentuk karana perpindahan arus pada pasir atau kelompok-kelompok bar, segmen channel jarang terbentuk pada jarak yang panjang.
2.Anastomosing yaitu Sungai anastomosing dipisahkan pulau alluvial yang permanen dan ditutupi dengan tumbukan yang lebat yang distabilisasi oleh bank sungai. Braided (anyaman)juga naik dengan cepat, fluktuasi cepat pada pemberhentian sungai, kecepatan tinggi dari pasokan sedimen kasar dan mudah tererosi.
 3.Meander yaitu Sistem ini didominasi oleh material dengan butiran halus dan memperlihatkan distribusi butiran menghalus ke atas. Struktur sedimen yang berkembang merefleksikan berkurangnya arus yang bekerja, yaitu through cross bedding pada bagian bawah dan paralel laminasi pada bagian channel.

Penampang log elektrik merefleksikan arah umum menghalus ke atas yang terbagi ke dalam tiga subfasies utama yang menghasilkan pengendapan pada tiga sublingkungan yang berbeda
 1.Subfasies Flood Plain yaitu Subfasies flood plain terdiri dari endapan batupasir yang sangat halus, batulanau dan batulempung yang diendapkan pada daerah overbank floodplain sungai. Struktur sedimen yang berkembang adalah laminasi ripple mark dan kadang-kadang terdapat horizon batupasir yang mengisi struktur shrinkage yang diasumsikan terdapat pada daerah subaerial.
2. Subfasies Channel yaitu Pada subfasies channel terjadi perpindahan lateral channel meander yang mengerosi bagian luar dari tepi sungai yang cekung, menggerus dasar sungai dan endapan sedimen pada point bar. Proses tersebut menghasilkan karakteristik sikuen pada ukuran butir dan struktur sedimen. Pada dasar permukaan bidang erosi diisi oleh material sedimen berbutir kasar, mud pellet dan sisa-sisa kayu. Endapan tersebut disebut sebagai lag deposit pada dasar channel dan ditindih oleh sikuen batupasir dengan distribusi butiran menghalus ke atas.

3 .Subfasies Abandoned Channel yaitu Pada subfasies abandoned channel terdapat endapan batupasir halus berbentuk tapal kuda dan biasanya disebut oxbow lake yang terbentuk ketika sungai meander memotong bagian lain dari permukaan di sekitar sungai tersebut. Endapan pada subfasies ini serupa dengan endapan pada subfasies floodplain, tetapi dapat dibedakan dari geometrinya yaitu endapan yang menindih abrasi channel lag konglomerat tidak terdapat selang dengan sikuen batupasir point bar.
4. Braided yaitu Braided dihasilkan oleh channel dengan intensitas kelokan yang kecil dan kaya akan material pasir yang terbentuk oleh tingkat intensitas aliran air yang kecil diantara bar-bar channel. Struktur sedimen yang terbentuk dan merefleksikan pengendapan pada saat itu antara lain : tabular crossbedding, punggungan bar yang lurus memanjang dan pada log menunjukkan bentuk blocky.
 Pada daerah ini, pengerosian terjadi dengan cepat dengan proses pengisian sedimen yang cepat dikarenakan sungai pada sistem ini mempunyai kelebihan material sedimen. Siku
Dataran aluvial
           Dataran aluvial mempunyai topohgarfi dafatar sebagai hasil pengendapan alluvium di kiri kanan sungai.Endapan ini terjadi sebagai akibat adanya luapan air sungai yang membawa sedimen pada saat banjir.
Dengan demikian struktur endapannya adalah berlapis horizontal pada elevasi yang rendah.sungai mati ( oxbow, dan oxbow lake).terjadi sebagai akibat dari ditinggalkannya alur sungai utama, sehingga aliran air sungai terhenti atau berpidah ke alur sungai yang lain.
Pemotongan alur sungai ini terjadi karena sungai tersebut telah mengalami kelengkungan  (sinous), sungai yang telah mengalami terbentuknya meander.ada tiga cara pemotongan sungai yanag menyebabkan sungai tersebut ditinggalkan/mati yang membentuk dasar sungai mati  (abandoned river), yaitu Chu cut off,nech cut off, dan avulse.pada pemotongan sungai telah mengalami meandering tersebut akan membentuk senacam tapal kuda (oxbow), manakala oxbow ini terisi air dinamakan oxbow lake yang sering dikenal dengan danau tapal kuda.

Rawa belakang  
Rawa belakang (back swamp) merupakan salah satu dari bentuk lahan yang memiliki elevasi sangat rendah sehingga bentuk lahan ini pada awalnya di cirikan oleh adanya vegetasi air seperti eceng gondok, tanaman bunga terompet, tanggul alam (natural levee).bentuk lahan rwa belakang terkadang bias agak jauh dari sungai, tetapi sejajar dengan alur sungai yang masih aktif dan memiliki elevasi yang rendah di antara system fluvial yang lainnya. Bentuk lahan seperti ini disebut ledok alluvial.
Terjadinya meander tersebut umumnya disertai dengan pelebaran lembah (valley widening).ada dua proses yang  domainan dalam alur sungai yang mengalami meander tersebut sebagai akibat dari posisi tali arus (thalweg) yang tidak terletak ditengah penampang melintang lembah/sungai.lengkung bagian luar sungai disebut outer band yang mengalami erosi di bagian bawah tebing tanggul disebut under cut.sedangkan lengkung dalam disebut inner band yang sebaliknya mengalami deposisi pengendapan disebut point bar.

 Kipas alluvial
Bentuk lahan kipas alluvial mempunyai bentuk yang khas, yaitu seperti kerucut rendah merupakan hasil akumulasi sedimen berukuran bongkah, kerakal, kerikit, dan pasir yang terjadi pada suatu daerah dimana sungai mengalir yang mengalami perubahan gradient yang mencolok atau dari mering hingga terjal ke datar  atau hamper datar, bahan sedimen makin ke hilirmakin halus.
 Delta
Seperti halnya kipas alluvial, delta juga merupakan bentuk lahan yang berkaitan erat dengan kondisi daerah aliran sungai sebagai pemasokan sedimen. Perbedaannya adalah bahwa delta terletak di muara sungai pada laut dangkal.ada beberapa syarat untuk dapat berkembang tumbuhnya delta adalah sebagai berikut :
            a.Daerah aliran sungai yang luas
            b. Debit air sungai yang tinggi
            c. Muatan sedimen dalam jumlah besar
            d.Daerah humid
            e. Dasar laut dangkal
            f. Arus dan gelombang laut kecil
            g. Topografi pantai landai

Sistem delta
Delta merupakan garis pantai yang menjorok ke laut, terbentuk oleh adanya sedimentasi sungai yang memasuki laut, danau atau laguna dan pasokan sedimen lebih besar daripada kemampuan pendistribusian kembali oleh proses yang ada pada cekungan pengendapan (Elliot, 1986 dalam Allen, 1997). Menurut Boggs (1987), delta diartikan sebagai suatu endapan yang terbentuk oleh proses sedimentasi fluvial yang memasuki tubuh air yang tenang. Dataran delta menunjukkandaerah di belakang garis pantai dan dataran delta bagian atas didominasi oleh proses sungai dan dapat dibedakan dengan dataran delta bagian bawah didominasi oleh pengaruh laut, terutama penggenangan tidal. Delta terbentuk karena adanya suplai material sedimentasi dari sistem fluvial. Ketika sungai-sungai pada sistem fluvial tersebut bertemu dengan laut, perubahan arah arus yang menyebabkan penyebaran air sungai dan akumulasi pengendapan yang cepat terhadap material sedimen dari sungai mengakibatkan terbentuknya delta. Bersamaan dengan pembentukan delta tersebut, terbentuk pula morfologi delta yang khas dan dapat dikenali pada setiap sistem yang ada. Morfologi delta secara umum terdiri dari tiga, yaitu : delta plain, delta front dan prodelta.

 Delta plain
Delta plain merupakan bagian delta yang bersifat subaerial yang terdiri dari channel yang sudah ditinggalkan. Delta plain merupakan baigan daratan dari delta dan terdiri atas endapan sungai yang lebih dominan daripada endapan laut dan membentuk suatu daratan rawa-rawa yang didominasi oleh material sedimen berbutir halus, seperti serpih organik dan batubara.Pada kondisi iklim yang cenderung kering (semi-arid),sedimen yang terbentuk didominasi oleh lempung dan evaporit. Daratan delta plain tersebut digerus oleh channel pensuplai material sedimen yang disebut fluvial distributaries dan membentuk suatu percabangan. Gerusan-gerusan tersebut biasanya mencapai kedalaman 5-10 meter dan menggerussampai pada sedimen delta front. Sedimen pada channel tersebut disebut sandy channel dan membentuk distributary channel yang dicirikan oleh batupasir lempungan. Sublingkungan delta plain dibagi menjadi :
     

Pada bagian ini terletak diatas area tidal atau laut dan endapannya secara umum terdiri dari :
  1.Endapan distributary channel
             Endapan distributary channel ditandai dengan adanya bidang erosi pada bagian dasar urutan fasies dan menunjukkan kecenderungan menghalus ke atas. Struktur sedimen yang umumnya dijumpai adalah cross bedding, ripple cross stratification, scour and fill dan lensa-lensa lempung. Endapan point bar terbentuk apabila terputus dari channel-ya. Sedangkan levee alami berasosiasi dengan distributary channel sebagai tanggul alam yang memisahkan dengan interdistributary channel. Sedimen pada bagian iniberupa pasir halus dan rombakan material organik serta lempung yang terbentuk sebagai hasil luapan material selama terjadi banjir.

 2. Lacustrine delta fill dan endapan interdistributary flood plain
            Endapan interdistributary channel merupakan endapan yang terdapat diantara distributary channel. Lingkungan ini mempunyai kecepatan arus paling kecil, dangkal, tidak berelief dan proses akumulasi sedimen lambat. Pada interdistributary channel dan flood plain area terbentuk suatu endapan yang berukuran lanau sampai lempung yang sangat dominan. Struktur sedimennya adalah laminasi yang sejajar dan burrowing structure endapan pasir yang bersifat lokal, tipis dan kadang hadir sebagai pengaruh gelombang .

 3 Lower Delta Plain
           Lower delta plain terletak pada daerah dimana terjadi interaksi antara sungai dengan laut, yaitu dari low tidemark sampai batas kehadiran yang dipengaruhi pasang-surut. Pada lingkungan ini endapannya meliputi endapan pengisi teluk (bay fill deposit) meliputi interdistributary bay, tanggul alam, rawa dan crevasse slay, serta endapan pengisi distributary yang ditinggalkan.

4. Delta Front
        Delta front merupakan sublingkungan dengan energi yang tinggi dan sedimen secara tetap dipengaruhi oleh adanya proses pasang-surut, arus laut sepanjang pantai dan aksi gelombang. Delta front terbentuk pada lingkungan laut dangkal dan akumulasi sedimennya berasal dari distributary channel. Batupasir yang diendapkan dari distributary channel tersebut membentuk endapan bar yang berdekatan dengan teluk atau mulut distributary channel tersebut. Pada penampang stratigrafi, endapan bar tersebut memperlihatkan distribusi butiran mengkasar ke atas dalam skala yang besar dan menunjukkan perubahan fasies secara vertikal ke atas, mulai dari endapan lepas pantai atau prodelta yang berukuran butir halus ke fasies garis pantai yang didominasi batupasir. Endapan tersebut dapat menjadi reservoir hidrokarbon yang baik. Diantara bar pada mulut distributary channel akan terakumulasi lempung lanauan atau lempung pasiran dan bergradasi menjadi lempung ke arah laut.

           Menurut Coleman (1969) dan Fisher (1969) dalam Galloway (1990), lingkungan pengendapan delta front dapat dibagi menjadi beberapa sublingkungan dengan karakteristik asosiasi fasies yang berbeda, yaitu :

 1.Subaqueous Levees
        Merupakan kenampakan fasies endapan delta front yang berasosiasi dengan active channel mouth bar. Fasies ini sulit diidentifikasi dan dibedakan dengan fasies lainnya pada endapan delta masa lampau.
 2. Channel
    Channel ditandai dengan adanya bidang erosi pada bagian dasar urutan fasies dan menghalus ke atas.
 3 Distributary Mouth Bar
      Pada lingkungan ini terjadi pengendapan dengan kecepatan yang paling tinggi dalam sistem pengendapan delta. Sedimen umumnya tersusun atas pasir yang diendapkan melalui proses fluvial.
 4 Distal Bar
       Pada distal bar, urutan fasies cenderung menghalus ke atas, umumnya ersusun atas pasir halus. Struktur sedimen yang umumnya dijumpai antara lain : laminasi, perlapisan silang siur tipe through
.5. Prodelta
           Prodelta merupakan sublingkungan transisi antara delta front dan endapan normal marine shelf yang berada di luar delta front. Prodelta merupakan kelanjutan delta front ke arah laut dengan perubahan litologi dari batupasir bar ke endapan batulempung dan selalu ditandai oleh zona lempungan tanpa pasir. Daerah ini merupakan bagian distal dari delta, dimana hanya terdiri dari akumulasi lanau dan lempung dan biasanya sendiri serta fasies mengkasar ke atas memperlihatkan transisi dari lempungan prodelta ke fasies yang lebih batupasir dari delta front. Litologi dari prodelta ini banyak ditemukan bioturbasi yang merupakan karakteristik endapan laut. Struktur sedimen bioturbasi bermacam-macam sesuai dengan ukuran sedimen dan kecepatan sedimennya. Struktur deformasi sedimen dapat dijumpai pada lingkungan ini, sedangkan struktur sedimen akibat aktivitas gelombang jarang dijumpai. Prodelta ini kadang-kadang sulit dibedakan dengan endapan paparan (shelf), tetapi pada prodelta ini sedimennya lebih tipis dan memperlihatkan pengaruh proses endapan laut yang tegas.
 
2.2 Dasar dan Syarat Pembentukan Morfologi Daerah Karst
           Batu gamping ( limestone ) mudah di larutkan dalam air, berlangsung secara cepat dan kuat bila air lebih banyak mengandung karbon dioksida atau CO2.air hujan yang mula-mula mengambil karbon dioksida di udara,kemudian setelah mencapai permukaan tanah mendapat tambahan CO2 dari material yang ada di permukaan tanah tersebut.
           Ada beberapa syarat untuk dapat berkembangnya topografi karst sebagai akibat dari proses pelarutan adalah sebagai berikut :
           a.Terdapatnya batuan yang mudah larut ( Batu gamping dan dolomite )
           b. Batu gamping dengan kemurnian yang tinggi
           c. Mempunyai lapisan yang tebal
           d.Banyak terdapat diaklas ( retakan )
e. Ada pada daerah tropis basah
           f .Vegetasi penutupnya lebah
           Pada  kondisi demikian batu gamping dan dolomite mudah mengalami pelarutan oleh air yang mengalir yang akhirnya membentuk topografi karst.kenampakan topografi karst meruapak fenomena alam yang unik dan spesifik,baik yang ada dipermukaan maupun yang ada di bawah permukaan tanah. Seperti yang dikemukan oleh jenings (1971) dalam Suprapto (1997 : 91) menyatakan bahwa derah karst merupakan suatu kawasan yang mempunyai karakreristik relief dan drainase yang khas,terutama disebabkan oleh larutan batuan ( batu gamping dan dolomite ) yang tinggi oleh air.larutan batuan ( batu gamping dan dolomite ) yang tinggi oleh air.
           Seperti di atas telah dikemukakan bahwa salah satu syarat yang menentukan terbentuknya daerah karst adalah retakan-retakan (joint-joint). Oleh karena joint ini menjadi penentuan yang cukup penting terbentuknya daerah karst,sebab dengan adanya kekar/joint ini air dapat masuk ke dalam batuan gamping dan bergerak ke bawah. Air yang masuk kedalam batu gamping/dolomite tersebut sambil melarutkan batuan tersebut dan melalui proses pelarutan tersebut, retakan-retakan di perlebar hingga kadang-kadang air yang mula-mula mengalir di atas pelarutan dapat berkerja dengan intensif diperlukan curah hujan yang cukup hingga tinggi, serta temperature yang tinggi pula.permukaan, kemudian men meresap dan menghilang terutama sungai-sungai kecil.
           Vegetasi yang rapat juga membantu proses pelapukan solusional menyebabkan perkembangan karst, karena vegetasi menyediakan bahan organik yang berbentuk humus dan bersama-sama dengan respirasi akar tanaman dapat menimbulkan tingkat konsentrasi karbon dioksida di dalam tanah sekitar 30%. Difusi karbondioksida ke dalam air melalui seluruh tanah membantu meningkatkan intensitas pelarutan yang tinggi bentukan topografi yang terutama di sebabkan oleh proses pelarutan oleh air terutama oleh kimiawi, meskipun cara mekanisme juga terjadi. Kenampakan tersebut di sebut dengan topografi karst.istilah karts diambil dari perkataan Yugoslavia : karst berarti batuan.
           Di pantai Andriatik sebelah timur yang termasuk daerah yang terdiri dari batu gamping (limostone) dan dolomite, terjadi pula pada derah dengan batuan lain yang mudah larut, seperti garam batu dan lain-lain, tetapi terdapat dalam jumlah yang sangat sedikit sekali dipermukaan bumi





BAB III
PEMBAHASAN
3.1 KESIMPULAN
Fluvial merupakan aktivitas aliran sungai, terdapat empat macam sungai yaitu straight, anastomosing, meandering dan braided.
Pada bagian terdahulu telah diuraikan bahwa air mengalir membawa material, mengikis ,dan mengendapkan di suatu tempat dimana tenaga sebagai pengangkut tidak lagi kuat. Material yang diendapkan tersebut baik bersifat sementara maupun untuk waktu yang lebih lama. Bentuk lahan bentukan asal proses fluvial ini berhubungan dengan daerah penimbaunan atau sedimentasi, misalnya pada lembah sungai dan dataran alluvial dengan tenaga geomorfologi.
.Bahan yang diangkut berlebihan, sehingga daya angkut berkurang,morfologi hasil pengendapan sungai kurang mendapat perhatian dibandingkan dengan morfologi hasi erosi.Daya angkut air yang mengalir berkurang sebagai akibat berkurangnya kecepatan pengaliran atau terhenti sama sekal, kemiringan lembah yang semakin kecil serta adanya rintangan-rintangan.
3.2 Saran
Makalaan  ini secara khusus membahas tentang Morfologi hasil proses fluvial dan dasar dan syarat pembentukan morfologi daerah karts, dimana isinya telah kami ringkas secara sistematis dan diketik menggunakan pola bahasa yang sederhana.sehingga diharapkan makalah ini dapat menambah wawasan bagi pembaca dan dapat dijadikan inspirasi bagi pembaca untuk lebih mengembangkan lagi.semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi pembaca dan bisa menambah pengetahuan pembaca tentang yang kami tulis diatas.




DAFTAR PUSTAKA
sumber : Sugiyanto I gede.M.Si.Drs/ ilmu pendidikan  univ lampung 2003

Minggu, 11 Desember 2011

meteorologi hasil pengerjaan air tanah/bentuk khas daerah karst dan siklus morfologi daerah karst


Makalah geomorfologi umum
Morfologi hasil pengerjaan air tanah  bentuk khas daerah karst
Dan
Siklus morfologi daerah karst






Guru Pembimbing :
Di
S
U
S
U
N
Oleh
Kelompok 6
Nama kelompok :
Nama  :                                                  Nim:
                                    Susi Mei Verianti                                            2011 133 309
                                    Irfan Setiawan                                                2011 133 289
                                    Elvi Revilina                                                   2011 133
          
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PGRI PALEMBANG
JL.A Yani Lr. Gotong Royong 9/10  Ulu Palembang
Telp. (0711) 51043 Fax.(0711) 514782
                                                                        Kata Pengantar
Puji syukur kita panjatkan  kehadirat  Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan makalah makalah ini alhamdulillah tepat pada waktunya yg berjudul “meteorologi hasil pengerjaan air tanah/bentuk khas daerah karst dan siklus morfologi daerah karst”
Makalah ini berisikan tentang informasi  mengenai meteorologi hasil pengerjaan air tanah/bentuk khas daerah karst dan siklus morfologi daerah karst”. Harapan kami  makalah ini dapat memberikan informasi serta membantu  menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca sehingga kita semua bisa memahami lebih lanjut  tentang hal tersebut.
Kami menyadari makalah ini masih  jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran  dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapakan demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata, kami sampaikan  terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta  dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senan tiasa meridhai  segalah usaha kita.amin

                                                                                          Palembang, 29 september 2011

                                                                                                        Penyusun








DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................i
DAFTAR ISI  .........................................................................................ii
BAB. I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang............................................................................1
1.2 Pembatasan Masalah...................................................................2
1.3 Perumusan Masalah ....................................................................2
1.4 Tujuan Penulisan .........................................................................2
BAB. II
PEMBAHASAN
      2.1 Pengertian daerah karst.................................................................3
      2.2 Morfologi hasil pengerjaan air tanah/bentukan daerah karst.............3
      2.3 Siklus morfologi daerah karst..........................................................8

BAB. III
PENUTUP
        3.1 Kesimpulan..................................................................................9
      





BAB I
PENDAHULUAN
1.1       Latar Belakang
            Perkembangan Ilmu pengetahuan terapan yang sangat pesat membuktikan adanya tanatangan yang nyata yang dihadapi oleh bangsa Indonesia dewasa ini. Semenetara itu banyaknya tulisan baik berupa artikel, jurnal hingga disertasi mengenai berbagai disiplin ilmu turut menambah khasanah IPTEK global (Internasional).
Pada disiplin ilmu tanah, terdapat ilmu terapan yang memiliki sifat terhadap penganalisaan bentuk bumi serta bentang lahan termasuk proses dan sejarahnya.         
Banyaknya faktor yang berpengaruh terhadap pembentukan landform. Selain itu terdapat pula tipe-tipe landform dominan di Indonesia bahkan secara global. 
Sesuai dengan petunjuk serta arahan yang diberikan kepada kelompok kami, karst merupakan salah satu tipe landform yang ada di bumi sekaligus merupakan dasar pembahasan kelompok kami.         
Bentang lahan karst menarik perhatian beberapa disiplin ilmu seperti geologi, biologi, tanah, arkeologi maupun pelaku pariwisata. Diperkirakan kawasan karst meliputi 7 –10 % dari total lahan dunia. Indonesia memiliki kawasan karst yang jumlahnya mencapai lebih dari 15,4 juta hektar, menurut Adji, (1999) di seluruh wilayah kepulauan Indonesia, luas kawasan karst mencapai hampir 20 % dari total luas wilayah.
Nama Karst berasal dari kata Kras (bahasa Jerman) yang berarti batu karang. Istilah karst pertamakali diperkenalkan oleh J. Cvijic (1893) yaitu untuk mendeskripsikan plato daerah di laut Adriatic Yugoslavia.
            Sebagian besar area karst daerah permukaannya tertutup oleh limestone, walaupun dibeberapa tempat tertutup oleh dolomit dan limestone dolomit. Selain itu kenampakan hasil pelarutan juga dapat berkembang pada bahan lain seperti gypsum dan batu garam, tetapi pada umumnya area tersebut tidak begitu penting karena areanya terbatas.   
Komponen pengontrol perkembangan topografi karst dan pembentukan tanah pada batu gamping sangat ditentukan oleh curah hujan, suhu, relief, tekanan CO2, stratigrafi batuan, ketebalan batuan yang terlarut dan vegetasi. Curah hujan yang tinggi disertai suhu dan tekanan CO2 yang tinggi dapat mempercepat proses pelarutan batu gamping (karstifikasi). Vegetasi berperan dalam proses pelapukan terutama oleh karena asam-asam organik hasil dekomposisi bagian tanaman serta hasil ekskresi akar tanaman terutama laktat, sitrat dan oksalat mampu mempercepat pelapukan batuan (Robert dan Berthelin, 1986).
            Wirjodihardjo (1953) menyelidiki sifat dasar pembentukan tanah pada bentang lahan karst yang hasilnya bahwa sisa pelapukan seperti besi, aluminium, silisium dari sumber-sumber kapur atau dolomite tertinggal berupa endapan-endapan oksida secara bersama-sama membentuk terra rosa. Besarnya pelindian pada tanah-tanah yang berkembang dari batu gamping bervariasi tergantung iklim dan drainase. Pada daerah yang temperature dan curah hujan rendah, silika dan lempung dari sisa pelapukan batu gamping lebih terawetkan dan mineralmineral besi terhidrat membentuk tanah-tanah warna coklat yang umumnya banyak mengandung kwarsa dan lempung. Proses tersebut di atas didukung oleh pH tanah yang cenderung alkalis, karena kompleks pertukaran didominasi oleh Ca2+ sebagai hasil pelarutan batu gamping (White, 1988). Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh pengetahuan dan informasi tentang tanah-tanah yang berkembang pada bentang lahan karst. Pengetahuan mengenai sifat dan watak tanah disertai penyebaran masingmasing jenis tanah sangat berguna untuk petunjuk penggunaan tanah.

1.2      Rumusan Masalah
1.1.2 Apa itu Karst?
1.2.2 Apa saja ciri-ciri atau  bentukan-bentukan hasil pengerjaan  Air Tanah dan Karst?
1.3.2 Bagaimana Siklus Morfologi Daerah Karts?
1.3   Batasan Masalah
1.1.3 Pengertian Karst
1.2.3 Morfologi Hasil Pengerjaan Air Tanah/Bentukan Daerah Karst
1.3.3 Siklus Morfologi Daerah karst.
1.4   Tujuan Penulisan
       1.1.4 Untuk mengetahui definisi karst
1.2.4 Untuk Apa saja ciri-ciri atau  bentukan-bentukan hasil pengerjaan  Air Tanah dan  Karst
1.3.4 Agar bisa mengetahui bagaimana Siklus Morfologi Daerah Karts.

1.5       Manfaat Penulisan
            -Untuk Mahasiswa
            Untuk menbah bahan bacaan.
           
            -Untuk Masyarakat
            Agar masyarakat dapat mengetahui dan menambah wawasan seberapa pentingnya pengenalan terhadap daerah karst. Dalam pengembangannya karst tersebut sangat berpengaruh terhadap perbedaan sifat karakteristik, genesis, dan klasifikasi yang ada.






BAB II
PEMBAHASAN
2.1  Pengertian Karst

            Karst adalah suatu peristiwa berhubungan geologi yang yang pertama diuraikan Slovenia. Area ini Carso, Kras atau Karst, yang berarti tempat berbatu-batu. Sejak itu semua area dengan suatu berhubungan geologi serupa disebut daerah Karst. Dalam pengertian ilmu bumi, karst adalah suatu wilayah kering,yang tidak subur/gersang dan berbatu-batu. Kita dapat menentukan bidang gua-gua dalam istilah yang sesuai dengan bentuk lahan dan dihubungkan dengan proses bentuk bumi. Daerah karst umumnya dicirikan dengan adanya closed depression, drainase permukaan dan gua. Daerah ini dibentuk terutama oleh pelarutan batuan, kebanyakan batugamping yang lazim dan relatif mendekati. Tetapi pelarutan batuan terjadi di litologi lain, terutama batuan karbonat lain misalnya dolomit, dalam evaporit seperti halnya gips dan halite, dalam silika seperti halnya batupasir dan kwarsa, dan di basalt dan granit dimana ada bagian yang kondisinya cenderung terbentuk gua (favourable). Semua tersebut diatas adalah benar-benar karst. Daerah karst dapat juga terbentuk oleh proses yang lain - cuaca, kegiatan hidrolik, pergerakan tektonik, air dari pencairan salju dan pengosongan batu cair (lava). Karena proses dominan dari kasus tersebut adalah bukan pelarutan, kita dapat memilih untuk penyebutan bentuk lahan yang cocok adalah pseudokarst (karst palsu). (David Gillieson, 1996). Sifat serta jenis erosional sampai kandungan yang membentuk karst

  1. Komposisi kimia dan Struktur yang mekanis batu karang [itu]. Batu karang umum untuk karst seluruh penjuru dunia area adalahLimestone (calcium carbonate CaCO3)
  2.  Dolomit ( Karbonat Zat kapur Magnesium Camg2Co6)· Gips ( CaSO4+ H2O)· Temperatur Dan Iklim yang lokal mencakup.· Jumlah curah hujan.· Jumlah tumbuh-tumbuhan-· Karst Yang diarahkan, tidak tertutupi, telanjang atau terbuka dari vegetasi·

2.2 Morfologi Hasil Pengerjaan Air Tanah/Bentukan Khas Daerah     Karst
Di   bawah   ini   dikemukakan   ciri-ciri   atau   bentukan-bentukan pengerjan air tanah dan karst. Perlu diketahui bahwa tidak semua bentukan itu terdapat (suatu daerah karst, melainkan hanya terdapat pada daerah tertentu-tertentu saja, walaupun batuan yang ada terdiri dari batu gamping ataupun dolomit.  Hal ini disebabkan oleh karena syarat pembentukannya dikemukakan nada bagian terdahulu tidak terpenuhi.
Daerah karst mempunyai ciri-ciri yang unik berbeda dengan daerah–daerah yang lain. Ciri-ciri tersebut adalah sebagai berikut.
1.      Terdapainya Terra Rosa, merupaka jenis tanah yang berwarna merah merupakan sisa-sisa hasil pelarutan yang tidak terangkut ke dalam celah-celah batuan, sehingga terra rosa tidak terdapat pada daerah karst dengan kemiringan yang curam.
2.      Terdapatnya   Lapies (Perancis), Karren, Client (Inggris) bentukan permukaan dengan relief yang jelas, beriembah dan berbunga kecil, runcing dan terjal. Bentukan semacam ini ierdapat di daerah kasts tidak tertutup terrarosa.
3.      Sinkholes dan bentukan-bentukan lain yang sejenis, merupakan depresi di daerah karst dengan kedalaman yang bervariasi, dari 1 hingga 30 meter dan luasnya juga bervariasi dari beberapa meter sampai beberapa ratus meter, Berdasarkan ciri yang telah disebutkan di atas, maka bentuk lahan yang terjadi di daerah karst dapat dikelompokan ke dalam dua bagian, yaitu:

A.     Bentuklahan negatif                                                 
Bentuklahan negatif dan bentuklahan positif. Bentuklahan negatif yang dimaksud adalah bentuklahan yang berada di bawah rata-rata permukaan setempat, sebagai akibat dari proses pelarutan. Bentuklahan-bentuklahan tersebut antara lain terdiri atas doline, uvala, polye, cockprt, blind valley, sinkholes, dan sebagainya. Terbentuknya goa-goa bawan tanah dengan sungai bawah tanah, dan bentukan-bentukan yang ada di dalam goa tersebut.

Doline merupaka suatu istilah yang mempunyai banyak sinonim antara lain sink, sinkholes, cockprt, blue hole, swallow hole atau cenote. Doline itu oleh Monroe dalam Suprapto (1997: 93) disebutkan bawa merupakan suatu ledokan atau lobang yang berbentuk corong pada daerah batu gamping dengan diameter mulai 1 meter hingga beberapa ratus meter.
Berdasarkan genesisnya, doline dapat dibedakan menjadi beberapa bagian, yartu: a) doline runtuhan, b) doline solusi, dan c) doline aluvial. Guna memperjelas dalam membedakan bagaimana terjadinya doline seperti yang dijelaskan di atas, berikut ini disajikan secara visual pada Gambar 3-14 (a dan b) berikut:

Doline reruntuhan
Doline reruntuhan ini terjadi sebagai akibat dari proses pelarutan yang ada di bawah permukaan yang menghasilkan rongga bawah tanah, Rongga bawah tanah tersebut atapnya runtuh, hingga menghasilkan cekungan atau depresi di permukaan. Doline seperti ini mempunyai lereng yang cukup curam-curam terdiri dari lapisan batuan yang keras dan menurun secara tiba-tiba.

Doline solusi
Doline solusi terjadi karena telah berlangsungnya proses solusi/pelarutan tanpa mendapat gangguan lain terhadap batuan. Doline seperti ini terus secara perlahan-lahan akibat larutnya batuan gamping ke dalam tanah oleh yang meresap melalui joint atau rekahan-rekahan pada daerah batugamping.

Doline aluvial
Doline aluvial ini terjadi sebagai akibat karena pelarutan oleh air yang mengalir yang kemudian menghilang ke dalam tanah. Adanya proses tersebut terbentuk doline alluvial.
Uvala merupakan ledokan luas terbentuk oleh gabungan dari beberapa doline. Uvala mempunyai dasar tidak teratur yang mencerminkan ketinggian karakter lereng doling sebelum mengalami degradasi. Uvala terkadang dasamya terlihat/muncul sungai bawah tanah, sebagai akibat dari sebagian atap sungai bawah tanah tersebut, sehingga juga merupakan collepse holes yang disebut jendela Karst (karst window). Karena uvaia ini dapal terjadi sebagai akibat runtuhnya atap gua/sungai bawah tanah, maka doline-doline tergabungan menjadi satu.
Polve merupakan bentukan di daerah karst denga bentuk yang memanjang dengan dasar yang rata dan dikelilingi oleh dinding yang curam. Polye ini terjadi sebagai Akibat dari sistem gua dalam tanah runtuh. Karena terjadi kerena sistem guan/sungai yang runtuh, maka polye ini tersusun dari beberapa uvala.
Lembah buta (blfnd vatlev) merupakan lembah yang mendadak berakhir/buntu, sungai-sungai yang mengalir pada lembah ini menghilang dan lenyap ke bawah tanah. Sungai-sungai yang menghilang ke bawah tanh (sinking creek) dimana seluruh aimya yang mula-mula mengakir di atas perrnukaan, kemudian menghilang ke dalam lubang-lubang atau retakan-retakan. Tempat menghilangnya air tersebut disebut “sink” yang terkadang tampak jelas, terkadang juga tidak karena sink tersebut terisi material, namun air sungai tetap menghilang dengan cara meresap secara berangsur-angsur. Air yang masuk ke dalam tanah tersebut menjadi sungai bawah tanah (underground river) yang dapat muncul kepermukaan menghilang kembali, muncul lagi dan demukian seterusnya sesuai dengan kondisi di daerah karst yang bersangkutan. Muncul tenggelamnya  sungai  bawah  tanah  tersebut  dapat  membentuk fenomena-fenomena yang menakjubkan untuk dilihat dan merupakan gabungan dari bentukan positif dan  bentukan negatif di daerah karst. Contoh fenomena-fenomena alam adalah  adanya jembatan alam, terowongan alam dan sebagalnya. Sebagai ilustrasi mengenai sungai bawah tanah dapat dilinat pada Gambar3-15.

B.     Bentuktahan positif
 Bentuklahan positif merupakan bentuklahan pada daerah karst berada di atas rata-rata permukaan setempat, seperti kygelkarst, turmkarst.

Kygelkars
Kygelkarst merupakan suatu bentuklahan karst tropik yang didirikan sejumlah bukit berbentuk kerucut yang kadang-kadang dipisahkan oleh Cockpit-cockpit ini saling berhubungan satu dengan yang lainnya pada satu garis lurus mengikuti pola kekar atau diaklas yang ada di daerah karst.   Kygelkarst sering disebut sebagai kerucut karst atau butte. Lereng bukit-bukit berbentuk atau tendiri atas cliff dan endapan-endapan. Berikut ini disajikan secara visual mengenai Kyglekarst dalam Gambar 3-17.


Turmkarst
Turmkarst merupakan istilah berpadanan dengan menara karst. Turmkarst terdiri atas perbukitan berlereng curuam atau vertikal yang menjulang tersendiri di atara dataran di daerah karst. Perbedaan antara Kygelkarst dengan turmkarst dapat dilihat dalam Gambar 3-17 berikut.                      



2.3 Siklus Morfologi Daerah karst
Beberapa ahli telah mengemukakan teori masing-masing mengenai siklus morfologi daerah  karst. CVIYIC dalam Sudarja dan Akub (1977: 89) menyatakan bahwa ada 4 tingkatan dalam siklus morfologi daerah karst, yaitu:
1)      Muda (Youth), pada tingkat ini pengaliran masih berlangsung di permukaan, terdapat lapies dan doline yang tersebar. Tidak ada goa-goayang besar, pengaliran di bawah tanah masih belum berkembang.
2)      Dewasa (Maturity), Pada tingkat ini pengaliran di bawah tanah telah mencapai maksimum. Pengaliran di permukaan hanya terbatas pada sinkkig creeks yang pendek-pendek. Goa-goa merupakan ciri yang khas pula. Jadi perkembangan karst pada tingkat ini telah maksimal.
3)      Akhir tingkat dewasa (late maturity), gejala karst muiai berkurang, karst window mulai terbentuk yang kemudia berkambang jadi uvala, disamping itu juga terdapat humus.                                                      
4)      Tua (old), Pada tingkat ini pengaliran mulai di permukaan mulai berulang kembali dan humus terbatas sekali jumlahnya.

Sedangkan menurut BEEDE dalam Sudardja & Akub   (1977:90) bahwa daerah karst terjadi siklus sebagai berikut:
1)      Muda, yaitu tingkat pe'ralihan dari pengaliran di permukaan ke pengaliran bawah tanah. Doline banyak terdapat.
2)      Dewasa, yaitu tingkat dimana sinkhole dan pengaliran bawah tanah mencapai tingkat maksimum. Hanya sungai-sungai besar yang mempunvai lembah yang dalam saja, mengalir di permukaan. Sinking creeks, swallow holes dan doline tersebar dalam jumlah yang sangat banyak.
3)      Tua, dengan ciri pengaliran kembali di permukaan dengan jendela karst terowongan alam, jembatan alam dan humus.




BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
            Setelah menelaah serta mengangkat pembahasan mengenai landform hingga topografi karst, dapat diambil sedikit garis besar yang merupakan fundamental penyusun teori praktis hingga penyebaran karst di muka bumi ini. Konsentrasi yang dapat diambil dari pembahasan mengenai karst ini, diantaranya adalah :

 - Dalam pengertian ilmu bumi, karst adalah suatu wilayah kering, yang tidak subur/gersang dan berbatu-batu.
Diberdayakan oleh Blogger.