Senin, 16 Januari 2012

Bentukan Bentuklahan Asal Volkanis Perkembangan Bentuklahan Asal Volkanime

Bentukan Bentuklahan Asal Volkanis

Perkembangan Bentuklahan Asal Volkanime


Disusun Oleh:Hera Astari 2011.133.301

Devi.D 2011.133.308

Dosen Pengasuh:Anita Rahmawati, S.Pd

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS PGRI PALEMBANG

TAHUN AJARAN 2011 / 2012

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena ridho jualah kami diberikan kesehatan, kekuatan dan kesempatan kepada kami sebagai penulis sehingga kami dapat menyelesaikan makalah atas tugas yang diberikan oleh dosen Anita Rahmawati, S.Pd. tentang ”Bentukan Bentuklahan Asal Volkanis dan Perkembangan Bentuklahan Asal Volkanisme.

Makalah ini ditujukan kepada para pembaca semua kalangan. Kami sebagai penulis makalah membantu para pembaca untuk mengetahui bagaimana menjadi seorang pemimpin yang sebenarnya dalam segala bidang.

Kami sebagai penulis mohon maaf apabila terjadi kesalahan pada makalah ini, baik dalam penulisan maupun cara penyampainnya.

Palembang, 2011

Penulis

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Bentuklahan asal volkanis merupakan hasil kegiatan gunungapi dipermukaan (ekstrusi) maupun didalam kerak bumi.Bentuklahan hasil bentukan asal volkanis terdapat beberapa jenis yang berkaitan dengan kegunungapian.

Bentuk asal volaknik dibagi menjadi bentuk-bentuk eksplosif dan efusif.Struktur volkanik yang besar biasanya ditandai oleh erupsi yang eksplosif dan erupsi yang efieif.Perkembangan bentuklahan asal volkan erat kaitannya denga sejarah perkembangan dan kegitan kegunungapian.Demikian pula klasifikasi letusan dapat membentuk muka bumi yang berupa kompleks gunung api.

1.2 Rumusan Masalah

a.Apa sajakah bentukan bentuklahan asal volkanis?

b.Bagaimana perkembangan bentukan

1.3 Tujuan Masalah

asal volkaniss?

a.Untuk mengethui apa saja bentuklahan asal volkanis.

b.Untuk mengetahui perkembangan bentukan asal volkanis

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Bentukan BentukLahan Asal Volkanis

Bentuklahan hasil bentukan asal volkanis,terdapat berbagai jenis yang berkaitan dengan kegunungapian (volkanisme).Jenis-jenis bentuk lahan tersebut adalah:

1.Kepundan (crater atau cauldron),yaitu cekungan membulat dibagian tengah vulkan sebagai pusat aktivitasnya.

2. Kerucut terak (cinder cone)

Merupakan gunung-api yang dibentuk terutama oleh bara basal dan abu vulkanik dari reruntuhan material piroklastik, atau dari material yang dikeluarkan pada saat terjadi letusan eksplosif. Karena dibentuk oleh serpihan material dan bukan dari lava, gunung ini mudah mengalami erosi, dan ukurannya pun relatif lebih kecil daripada gunung-api campuran. Gunung-api ini juga cenderung tidak bertahan lama, dibandingkan dengan gunung-api campuran yang terus bertambah lapisannya setiap kali terjadi letusan dari satu lubang.



3. Kerucut semburan (spatter cone)

4. Kubah atau sumbat lava (lava plug)

Sifat kekentalan magma meningkat sebanding dengan penambahan kandungan silika. Sebagian andesit dan dasit yang sangat asam, akan mudah membentuk kubah, yang kadang-kadang disertai dengan lidah lava tebal menonjol pada bagian bawahnya. Banyak contoh dapat ditemukan di Indonesia, misalnya di erupsi Galunggung 1918, Kelud 1920, dan Merapi. Sekitar 40 kubah lava di Indonesia telah dideskripsi menjadi beberapa tipe. Hartmann menaksir bahwa separuh jumlah gunungapi aktif memproduksi kubah lava dengan kandungan 55% Si02, miskin gas, dan dengan suhu sekitar 95oC.

Bentuk kubah dipengaruhi oleh konfigurasi dari tempat lava diekstrusikan. Kubah tumbuh seiring dengan penambahan energi dari dalam sehingga luar lapisan sangat diregangkan. Akan terjadi semacam stratifikasi mantel berurutan yang paralel dari luar ke dalam dengan ketebalan sampai beberapa meter. Kubah yang terbentuk mempunyai kemiringan kubah antara 35°- 40°. Akhir pembentukan kubah lava akan membentuk depresi di bagian puncaknya. Depresi ini merupakan hasil berbagai faktor, seperti penyusutan oleh pendinginan, atau berhentinya tekanan keatas.

Kubah Lava

Ø Terbentuk dari kumpulan aliran lava yang muncul di puncak seputar kawah gunung api

Ø Bermorfologi kubah, yang dibentuk dalam satu periode erupsi.

Ø Magma bersifat kental, sehingga hanya menumpuk di atas lubang kepundan membentuk bukit atau kubah batuan beku.

Ø Dalam pertumbuhannya, bagian luar kubah mendingin dan mengeras, yang selanjutnya diterobos oleh aliran lava berikutnya.

Ø Karena pada bagian luar mengeras, maka pada batas antara lava lama (keras di bawah) dan lava baru (plastis di atas) terbentuk perlapisan terpisah.Oleh proses pendinginan dan pengerasan yang tidak bersamaan, bagian yang plastis mudah runtuh, gugur menuruni lereng membentuk guguran kubah lava

5. Blok Lava

6. Kerucut Volkan



2.2 Perkembangan BentukLahan Volkanisme

Perkembangan bentukan lahan asal volkan erat kaitannya dengan sejarah perkembangan dan kegiatan gunung api.Perkembangan kegiatan gunung api,tergantung pada sifat gunung api tersebut.

2.2.1 Instrusi Magma

Intrusi adalah proses terobosan magma ke dalam lapisan kulit bumi (litosfer) tetapi tidak sampai keluar dari permukaan bumi. Namun intrusi magma menyebabkan permukaan cembung akibat pengangkatan lapisan kerak bumi.

Penerobosan magma kepermukaan bumi belum tentu mencapai permukaan bumi.Jika penerobosan magma tidak mencapai permukaan bumi,instrusi tersebut disbut instrusi magma atau plutonisme.Batuan beku yang terbentuk dari aktivitas ini disebut intrusiva.

Bentukan instrusi magma itu tergantung kepada jenis magmanya,yang merupakan sumber mineral yang mempunyai arti ekonomis.Bahan galian logam kebanyakan terdapat didalam batuan instrusi atau pada lapisan litosfer disekitar instrusi magma,karena mengalami metamorfosis.

Intrusi magma atau plutonisme menghasilkan bermacam-macam bentuk-bentukan ,yaitu:

1. Batolit adalah batuan beku yang terbentuk di dalam dapur magma, sebagai akibat penurunan suhu yang sangat lambat.

2. Lakolit adalah magma yang menyusup di antara lapisan batuan yang menyebabkan lapisan batuan di atasnya terangkat sehingga menyerupai lensa cembung, sementara permukaan atasnya tetap rata.

3. Keping intrusi atau sill adalah lapisan magma yang tipis menyusup di antara lapisan batuan.

4. Intrusi korok atau gang adalah batuan hasil intrusi magma memotong lapisan-lapisan litosfer dengan bentuk pipih atau lempeng.

5. Apolisa adalah semacam cabang dari intrusi gang namun lebih kecil.

6. Diatrema adalah batuan yang mengisi pipa letusan, berbentuk silinder, mulai dari dapur magma sampai ke permukaan bumi.

2.2.2 Ekstrusi Magma(Erupsi Magma)

Perkembangan bentukan asal volkan erat kaitannya dengan sejarah perkembangan dan kegiatan gunung api.Perkembangan kegiatan gunungapi tergantung pada sifat letusan gunungapi,yaitu:

a.Meleleh/meleler (effusive) atau quit type

b.Meletus atau explosive type (Lobeck, 1993:663)

Suatu keadaan dimana aktivitas magma mencapai ke permukaan bumi,maka gerakan ini dinamakan erupsi magma. Jadi erupsi magma adalah proses keluarnya magma ke permukaan bumi karena ada tekanan dari dalam melalui retakan atau lubang kepundan. Erupsi magma inilah yang menyebabkan sebuah gunung bisa di katakan sebagai gunung api. Erupsi magma tidak hanya terjadi di daratan tetapi juga bisa terjadi di lautan.

Kekuatan erupsi masing-masing volkan tidak sama.Pada setiap volkan dapat diamati periode silih berganti dari masa aktivitas tinggi dan masa aktivitas rendah.Aktivitas suatu volkan kadang-kadang secara bertahap bertambah besar dan lalu secara perlahan-lahan sirna,sementara itu tibi-tiba terjadi suatu ledakan dahsyat yang berbahaya.

Erupsi itu sendiri dibedakan beberapa jenis:

a.Erupsi sentral

Erupsi sentral adalah magma yang keluar melalui sebuah lubang permukaan bumi dan membentuk gunung yang letaknya tersendiri.Erupsi jenis ini dapat dibagi menjadi tiga:

1.Erupsi eksplosif (letusan), terjadi apabila letak dapur magma dalam dan volume gas besar, magma bersifat asam. Material yang dikeluarkan adalah piroklastik dengan kandungan S1O2 tinggi, misalnya bongkah, lapili, bom, pasir, abu dan debu. Bentuk Volkan adalah Sharp Cone.

2.Erupsi effusif (lelehan), terjadi karena letak dapur magma dangkal, volume gas kecil, magma bersifat basa. Material yang dikeluarkan berupa lava dengan kandungan S1O2. Bentuk volkan rounded cone.

3.Erupsi campuran, terjadi karena letak variasi dapur magma, volume gas dan sifat magma bersifat intermedier tetapi biasanya cenderung basa. Bentuk Volkan Strato.

Erupsi tipe ini menghasilkan tiga bentuk gunung api yaitu:

1.Gunung api perisai

Gunung api perisai yaitu gunung api bentukan hasil erupsi efusif atau aliran yang terbentuk karena sifat magma yang dikeluarkan cair atau encer. Contoh tipe gunung api perisai yaitu Gunung api di Kepulauan Hawaii .

Gunung api perisai

2.Gunung api maar

Gunung api maar yaitu gunung api bentukan hasil erupsi eksplosif atau ledakan.Gunung api tipe ini memiliki dapur magma yang relatif kecil dan dangkal sehingga dengan satu kali letusan maka aktivitas gunung api tersebut akan berhenti dan biasanya akan membentuk danau.

Gunung api maar

3.Gunung api strato

Gunung api strato merupakan gunung api berbentuk kerucut dengan lereng yang curam yang dihasilkan karena letusan eksplosif dan efusif secara bergantian. Contoh Gunung api strato yaitu Gunung Fuji di Jepang dan sebagian besar gunung api di Indonesia.

Gunung api strato

b.Erupsi semi volkanik atau erupsi freatik

Erupsi semi volkanik atau erupsi freatik,merupakanerupsi yang terjadi dimana tidak ada bahan-bahan baru yang dihasilkan.Pada erupsi jenis ini airtanah dirubah menjadi uap,contohnya depresi souh (Sumatera-Lampung) yang dalamnya 270 m.

c.Erupsi Linear

Erupsi linear adalah gerakan magma menuju permukaan bumi melalui celah-celah atau retakan-retakan dan berjajar sehingga nampak seperti garis.Erupsi linear menghasilkan lava yang cair dan membentuk plato, misalnya Plato Sukadana (Lampung).Erupsi linear ini terjadi sebagai akibat adanya rekahan,tetapi magma keluar melalui kepundan sentral dengan membentuk garis lurus atau berderet,material yang dikeluarkan umumnya cair,yang klastis sangat sedikit,larva bersifat basalt dengan membentuk plateau basalt seperti basaly Sukadama-Lampung.

d.Erupsi Post-Volkanis

erupsi aktiva post volkanik,terdapat pada gunungapi yang tidak begitu aktif lagi,terdapat semacam kegiatan post-volkanik seperti fumarol,solfatar,sumber air panas,dan geyser.

Bentuklahan yang dihasilkan oleh kegiatan volkanis diIndonesia dapat dikelompokkan menjadi beberapa jenis,yaitu:

a.Kerucut paasiterparasitic cone type),merupakan tipe perbukitan atau gunungapi yang pembentukannya berkaitan langsung dengan kegiatan gunungapi.Contohnya adalah bentuklahan disekitar Gunung amomgan (Jawa Timur) sehingga disebut tipe Lamomgan.

b.Berbukit-bukit kecil (hillocks type) ,yaitu bukit-bukit kecil disekitar gunung api yang tersusun dari bahan-bahan gunungapi,terutama bahan lepas.Bentuk ini banyak disekitar kaki gunung Galunggung (Jawa Barat)

c.Antiklinorium gunungapi (volcanic anticlinorium type) ,merupakan perbukitan lipatan disekitar kaki gunungapi yang terjadi karena kompresi mendatar akibat runtuhan sebagian kerucut gunungapi.Contohnya diBukit Gendol di kaki barat Gunung Merapi merupakan bagian dari tubuh gunung Merapi yang saat ini telah meluncur secara pejal dari puncaknya yang tertahan didataran dengan dicirikan adanya lipatan pada lapisan plastis.

BAB III

KESIMPULAN

3.1 Kesimpulan

Bentuklahan asal volkanis terdiri dari:

1.Kepundan (crater atau cauldron)

2.Kerucut terak (cinder cone)

3.Kerucut semburan (spatter cone)

4.Blok Lava

5.Kubah atau sumbat lava (lava plug)

6. Kerucut Volkan

Erupsi gunungapi dibagi menjadi beberapa bagian,yaitu erupsi linier,erupsi sentral yang meliputi erupsi eksplosif dan erupsi efusif,erpsi semi volkan atau erupsi post-vulkanik.Masing-masing jenis erupsi yang terjadi membentuk bentukan bebtuklahan yang berbeda pula.Adapun sebagai contoh dari bentuklahan yang dihasilkan diantaranya adalah kerucut pasir (parastic cone type),bukit-bukit kecil (hillocks type),dan antiklinorium gunungapi (volcanic anticlical type).Dalam perkembangannya bentuk lahan asal volkan masing-masing berbeda sesuai dengan type erupsi gunung api itu sendiri,karena material dan hasil kecepatan serta tenaga asalluar dalam melakukan pekerjaanproses geomorfik

Sabtu, 14 Januari 2012

KEGIATAN ALIRAN AIR PERMUKAAN DAN AIR TANAH SERTA PENAMPANG LEMBAH


KEGIATAN ALIRAN AIR PERMUKAAN DAN AIR TANAH SERTA PENAMPANG LEMBAH





Dosen Pengasuh :

DISUSUN OLEH : Kelompok : 3

Alloring                                                  (2011 133 280)
Apriyanti Anggraini                              (2011 133 273)
Lilis Karlina                                          (2011 133 288)

Kelas : 1G
Mata Kuliah : Geomorfologi Umum



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GEOGRAFI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PGRI PALEMBANG
2011
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, berkat rahmat dan karunia-Nya Penulis dapat menyelesaikan makalah ini dalam rangka memenuhi salah satu tugas pada mata kuliah “Geomorfologi Umum” penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, mengenai isi maupun pemakaian bahasanya, sehingga kami memohon kritikan yang bersifat membangun untuk penulisan lebih lanjut. Mudah – mudahan makalah ini bermanfaat bagi para pembaca serta menambah pengetahuan bagi kita semua, dan kiranya Tuhan Yang Maha Esa senantiasa melimpahkan rahmat dan karunia – Nya kepada kita semua.

Penyusunan makalah ini bertujuan untuk mempermudah mahasiswa dalam mengembangkan pembahasan tentang morfologi daerah lipatan, kubah, dan patahan. Dan diperlukan kerja keras mahasiswa untuk memahami dan membaca buku-buku tentang geomorfologi, agar mahasiswa memiliki pengetahuan yang luas tentang mata kuliah tersebut. Tanpa membaca buku – buku penunjang yang lain, maka bahan perkuliahan tersebut tidak akan berkembang. Di karenakan makalah ini hanya memuat salah satu pokok – pokok materi penting yang masih perlu dikembangkan dengan buku penunjang lainnya. .




Palembang,        Januari 2012


Penulis




BAB I
PENDAHULUAN
1.1.         Latar Belakang
Air hujan yang jatuh kepermukaan bumi sebagian mengalami transpirasi dan ada yang mengalir sebagai aliran air permukaan (run off), serta  ada pula yang meresap kedalam tanah. Air hujan yang mengalir sebagai aliran permukaan terakumulasi pada suatu lembah dan mengalir menuju daerah yang lebih rendah. Air hujan yang tersimpan dalam tanah-tanah yang porius kemudian muncul kepermukaan dan ada yang meresap kemudian muncul sebagai mata air,pada umumnya menjadi sumber dari air sungai. Disamping itu, juga hasil dari es yang mencair didaerah lingtang menengah-tinggi ataupun pada daerah pegunungan tinggi didaerah tropis. Air yangbisa berasal dari air hujan mata air, dan pencairan es dan salju, terakumulasi pada suatu lembah dan mengalir sebagai aliran permukaan menuju daerah-daerah yang lebih rendah yang dinamakan sungai.
Dalam membicarakan penampang dalam suatu lembah,yang di sajikan adalah penampang melintang dan penampang melintang.

1.2.         Rumusan Masalah
1.2.1.      Bagaimana kegiatan aliran air permukaan dan air tanah?
1.2.2.      Apa saja jenis-jenis penampang lembah?










BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Kegiatan Aliran Air Permukaan dan Air Tanah
            Air hujan yang jatuh kepermukaan bumi sebagian mengalami transpirasi dan ada yang mengalir sebagai aliran air permukaan (run off), serta  ada pula yang meresap kedalam tanah. Air hujan yang mengalir sebagai aliran permukaan terakumulasi pada suatu lembah dan mengalir menuju daerah yang lebih rendah. Air hujan yang tersimpan dalam tanah-tanah yang porius kemudian muncul kepermukaan dan ada yang meresap kemudian muncul sebagai mata air,pada umumnya menjadi sumber dari air sungai. Disamping itu, juga hasil dari es yang mencair didaerah lingtang menengah-tinggi ataupun pada daerah pegunungan tinggi didaerah tropis. Air yangbisa berasal dari air hujan mata air, dan pencairan es dan salju, terakumulasi pada suatu lembah dan mengalir sebagai aliran permukaan menuju daerah-daerah yang lebih rendah yang dinamakan sungai.
            Jadi, sungai adalah merupakan massa air yang secara alami mengalir pada suatu lembah, sehingga aliran air yang terdapat pada saluran buatan seperti saluran irigasi tidak bisa dinamakan sungai. Pada intinya bahwa sungai tersebut mengalir pada lembah yang terbentuk secara alami. Lembah itu sendiri dapat diartikan sebagai suatu bentuk permukaan  bumi yang negative, merupakan hasil pengikisan oleh air proses mengalir ataupun terjadi karena faktor  dan proses endogen seperti adanya patahann.
            Air sungai dapat bersumber dari air hujan, air tanah, dan hasil mencairnya es terkadang melakukan erosi, akibatnya aliran air tersebut membawa muatan sedimen serta membentuk bentuk n lahan (landform) baik berupa hasil pengikisan maupun hasil pengendapan. Morfologi hasil pengikisan ataupun pengendapan sungai pada dasarnya merupakan bentukan-bentukan yang terjadi berkaitan dengan  air mengalir. Bentuklahan-bentuklahan yang terjadi akibat dari proses ini khususnya pada daerah aliraan air/sungai.
            Pada permulaan aliran air/sungai terjadi karena air mengalir mengikuti retakan-retakan/patahan-patahan (joint) yang ada di permukaan bumi. Sehingga pada awalnya daerah tersebut bukan merupakan daerah aliran sungai, tetapi merupakan akumulasi air, kemudian terjadi proses lanjutannya seperti prose pelapukan, erosi, pelarutan dan sebagainya. Proses tersebut berjalan terus, sehingga berkembang menjadi sebuah parit-parit kecil yang makin lama makin tertoreh/terkikis baik secara lateral maupun vertikal. Akhirnya terbentuk sungai-sungai kecil sebagai sistem sungai.
            Kegiatan-kegiatan aliran air sungai tergantung pada beberapa faktor (Lobeck, 1939: 158) adalah sebagai berikut :
a.       Curah hujan yang tinggi, hujan yang efektif (tinggi) tidak saja menyebabkan aliran yang kuat, tetapi juga bertambah banyaknya jumlah aliran sungai yang permanen. Sebagai contoh,  sungai-sungai dibagian timur Amerika Serikat lebih banyak jika dibandingkan dengan di bagian barat.
b.      Tanah-tanah ponus yang dalam dan banyaknya tumbuhan yang tumbuh cenderung menyerap air hujan dan mengurangi aliran permukaan (run-off) . Seperti pada daerah-daerah tinggi yang luas dipantai selatan Alabama dan Missisipi, walaupun curah hujan tinggi tetapi sungai tidak banyak jumlahnya.
c.       Daerah yang terdiri dari batu gamping serta aliran bawah permukaan (bawah tanah) tidak menyebabkan terdapatnya aliran permukaan. Misalnya didaerah Karst Dalmatia tidak mempunyai banyak sungai, walaupun curah hujannya paling lebat didaerah Eropa.
d.      Daerah arid dengan vegetasi yang kurang menentukan aliran sungai, baik volume, jumlah air , maupun keadan permanen aliran yang minimum.
e.       Tanah-tanah liat yang kedap air sungai glacial, menambah aliran air permukaan yang mengurangi jumlah aliran bawah tanah, sehingga mempercepat pengerjaan erosi.
Aliran air pada sebuah sungai pada umumnya mengalir tidak tetap, mengikuti muatan sedimen unsure-unsur lain yang larut didalam air. Oleh karena itu, sungai mempunyai ciri yang tersendiri  dan berbeda dengan massa air lain seperti danau, laut, dan sebagainya. Adapun ciri tersebut adalah sebagai berikut seperti yang dikemukakan oleh Sudarja dan Akub (1977: 38) antara lain adalah sebagai berikut :
a. Pengalirannya tidak tetap, kadang kala alirannya deras dan ada kalanya lambat, menghilang ke bawah permukaan dan sebagainya.
 b. Mengangkut material, dari mulai Lumpur yang halus, pasir, kerikil sampai pada material batuan yang lebih besar yang tergantung besar alirannya.
c. Mengalir mengikuti saluran tertentu yang pada sisi kanan kirinya dibatasi oleh tebing yang bias curam berupa lembah-lembah dari lembah dangkal sampai pada lembah-lembah yang dalam.
            Sungai sebagai suatu system yang terdiri dari beberapa anak sungai yang tergabung ke dalam sungai induk pada suatu daerah aliran. Jadi daerah aliran suatu sungai yang sering disebut DAS merupakan suatu wilayah ekosistem yang dibatasi oleh pemisah topografi dan berfungsi sebagai pengumpul, penyimpan dan penyalur air beserta sedimen dan unsur hara lainnya. Melalui system sungai yang mempunyai outlet tunggal, system aliran pada DAS terbagi ke dalam daerah aliran hulu, daerah aliran tengah, daerah aliran hilir. Di masing-masing daerah aliran ini terjadi proses geomorfik yang berbeda. Misalnya di bagian daerah aliran hulu biasanya terjadi erosi vertical, bagian daerah tengah terjadi erosi vertical dan lateral kira-kira sama kuat, dan didaerah aliran hilir terjadi proses erosi lateral. Kegiatan aliran air sungai biasanya adalah mengambil (mengerosi/ mengikir), mengangkut, dan mengendapkan, sehingga suatu lembah sungai sangat tidak tetap dalam arti selalu mengalami perubahan-perubahan tersebut dapat tejadi pada panjang, lebar atau dalamnya lembah.
            Air sungai dalam perjalannanya dari hulu ke hilir melakukan kegiatan mengikis, mengambil bahan lepas, mengangkut dan mengendapkan.Suatu lembah penampangnya tidak tetap dan sifatnya dinamik(mengalami perubahan-perubahan).
 Perubahan ini di sebabkan karena :
  1. Erosi, erosi tersebut bias berupa erosi mudik(menyebabkan lembah panjang kea rah  ulu), erosi lateral (menyebabkan pelebaran lembah), dan erosi vertical (menyebabkan pendalaman lembah). Lembah dapat bertambah panjang akibat terjadi erosi lateral pada daerah-daerah aliran sungai pada stadium tua. Terbentuknya meander menyebabkab bertambah panjangnya lembah. Meander merupakan aliran merupakan aliran sungai yang berliku-liku sebagai akibat dari erosi lateral, sehingg dengn berliku-likunya aliran sungai lembah sungaipun bertambah panjang.
  2. Perubahan muka air laut dimana sungai tersebut bermuara. Penurunan muka air laut ini dapat disebabkan karena terjadi pengangkatan dasar laut atau penurunana dasar laut. Terjadinya penurunan dan pendangkalan dasar laut menyebabkan aliran sungai bertambah panjang kearah laut, muara bergeser kearah laut dan garis pantai bertambah lebar.
Berkaitan dengan adanya erosi yang terjadi pada suatu lembah, namun erosi secara vertikal pada suatu lembah tidak terjadi secara terus menerus, sebab pada stadium tertentu akan terhenti. Hal ini disebabkan karena sudah mencapai batas vertikal atau base level. Batas erosi ada dua jenis, yaitu:
  1. local base level atau batas erosi local berupa danau atau penghalang berupa batuan keras yang terdapat pada bagian aliran tengah atau bagian hulu.
  2.  General base level batas umum erosi, batas ini berupa permukana laut yang berlaku untuk umum untuk setiap aliran sungai. Erosi vertical mulai melembah bahkan terhenti bila mendekati batas erosi umum.

2.2.Penampang lembah
            Dalam membicarakan penampang dalam suatu lembah,yang di sajikan adalah penampang melintang dan penampang melintang. Untuk itu, akan di sajikan secara satu persatu.

2.2.1.Penampang Melintang
            Penampang melintang suatu lembanh aliran sungai ada yang berbentuk V dan ada pula uang berbentuk U. namun sebenarnya bentuk ini tidak lah tepat benar, karena setiaplembah jarang sekali memiliki menpunyai sisi lereng yang simetris. Hal ini tergantung pada material batunya seperti resisten tidaknya batuan, struktur pelapisan ( kedudukan lapisan yang hamper tegak. Berikut ini di kemukakan mengenai beberapa contoh penampang melintang suatu lembah dengan berbagai bentuk di sajikan dalam Gambar 3-2 dan Gambar 3-3.

                                   Timur
Keterangan      A= Undercut slope                             = arah kekuatan erosi dan
B= Slip of slope                                     tebing/dinding lembah lebih tejal
                        Gambar 3-2. Penampang Melintang pada lekuknan meander
            Pada sisi luar lekukan meander lebih curam di bandingkan  dengan pada lereng di bagian dalam. Hal ini di sebabkan karena air yang menglir pada lekukan meander tersebut, terutama paa sisi luar merupakan aliran dengan tekanan yang paling besar, sehingga terjadi pegikisan ke arah luar dan dinding terlihat lebih tegak. Bandingkan dengan sisi bagian dalam nampak lebih landai. Kelokan bagian luar di sebut dengan Undercut slope ( bagian dinding yang terkikis ), sedangkan sisi bagian dalam kelokan merupakan slip of slope (bagian sisi yang terendapi material), sehingga makin ke  arah pinggir makin  dangkal. Berdasarkan kekuatan mengerosi kea rah dinding kelikan, maka jelas lahan yang ada di bagian barat aliran makin lama makin terkkikis habis, sebaliknya  lahan di bagian timur aliran luasnya bisa bertambah kea rah barat. Untuk mengatasi pelebaran dan perubahan aliran, maka pada sisi bagian barat sebaliknya di buat pengaman misalnya di pasang batu bronjong (batu yang di taruh dlam kawat teranyam dan tersusun) untuk menahan kuat arus.
            Selanjutnya disajikan pula penampang melintang yang terdapat pada daerah dengan struktur berlapis miring. Adapun gambarnya seperti berikut :
                                   


                                                                                                Timur                                                  
                                                  
Gambar 3-3. Penampang melintang pada struktur berlpis miring
Dari gambar di atas dapat di jelaskan bahwa lereng yang lapisannya miring pada tepi lembah bagian barat tamapak  lebih curam di bandingkan dengan lereng pada sisi sebelah timur. Hal ini di sebabkan karena pengikisan terjadi pada  lapisan yang memng sudah miring dan lapisan tersebut kurang resisten dibandingkan dengan lapisan yang ada pada tebing disebelah barat.
Hal lain yang menyebabkan tidak semetrisnya penampang melintang pada suatu lembah adalah disebabkan adanya penyinaran yang tidak sama intensifnya. Faktor suhu menjadi pemicu untuk mempercepat pelapukan. Faktor geologis juga berpengaruh terhadap lereng yang memiliki penampang melintang yang tidak simetris.
Faktor aliran sungai juga mempengaruhi terhadap bentuk penampang melintang suatu lembah, karena aliran sungai tidak sama kecepatannya disemua tempat pada penampang melintang suatu lembah. Perbedaan kecepatan aliran dipengaruhi oleh :
a.       Kelurusan sungai,pada sungai yang lurus cenderung memiliki aliran yang lebih cepat.
b.      Relief dan kemiringan lereng menentukan kecepatan aliran, dimana setelah terjadi hujan air dialirkan secara keseluruhan tau terhenti pada sebuah ledok atau cekungan.
c.       Vegetasi, penutupan lahan berupa vegetasi dapat berfungsi menahan aliran permukaan, sehinnga jumlah air yang tertampung dan terakumulasi pada sebuah sungai menjadi lebih sedikit dan terakumulasi lebih lama, akhirnya air yang dialirkan juga lebih sedikit.
d.      Faktor geologis, menyangkut pada material  batuan apakah material batuan porius atau tidak berpengaruh terhadap jumlah air yang meresap kedalam tanah atau batuan.

2.2.2. Penampang  Memanjang Lembah
Penampang memanjang lembah pada dasarnya sama dengan penampang melintang. Hanya saja pada penampang memanjang menunujukan profil suatu lembah atau sungai dari hulu ke hilir dengan memperhatikan tempat-tempet yang mempunyai ketinggian yang sama. Oleh karena itu penampang memanjang merupakan grafik tentang ketinggian suatu tempat sepanjang alur lembah kesungai dari hulu kehilir.









BAB III
      PENUTUP

3.1. Kesimpulan
 Pada permulaan aliran air/sungai terjadi karena air mengalir mengikuti retakan-retakan/patahan-patahan (joint) yang ada di permukaan bumi. Sehingga pada awalnya daerah tersebut bukan merupakan daerah aliran sungai, tetapi merupakan akumulasi air, kemudian terjadi proses lanjutannya seperti proses pelapukan, erosi, pelarutan dan sebagainya.
Dalam membicarakan penampang dalam suatu lembah,yang di sajikan adalah penampang melintang dan penampang melintang. Penampang melintang suatu lembah aliran sungai ada yang berbentuk V dan ada pula uang berbentuk U. namun sebenarnya bentuk ini tidak lah tepat benar, karena setiaplembah jarang sekali memiliki menpunyai sisi lereng yang simetris. Hal ini tergantung pada material batunya seperti resisten tidaknya batuan, struktur pelapisan ( kedudukan lapisan yang hamper tegak. Sedangkan penampang memanjang lembah pada dasarnya sama dengan penampang melintang. Hanya saja pada penampang memanjang menunujukan profil suatu lembah atau sungai dari hulu ke hilir dengan memperhatikan tempat-tempet yang mempunyai ketinggian yang sama.

3.2. Saran
            Makalah ini secara khusus membahas tentang kegiatan aliran air permukaan dan air tanah, serta penampang lembah. Dimna isinya telah kami ringkas secara sistematis dan diketik menggunakan pola bahasa yang sederhana. Sehingga diharapkan makalah ini dapat menambah wawasan bagi pembaca dan dapat dijadikan inspirasi bagi pembaca untuk lebih mengembangkan lagi. Semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi pembaca dan bisa menambah pengetahuan pembaca.





Daftar Pustaka

Lobeck, AK (1939), Geomorphology, An Introduction to the study of Landscape, New  
              York and London: Mc Graw-Hill Book Company. Inc.                                                       
Nagle dan Spencer, 1997, Edvanced Geography, New York: Oxford University Press.                                               
Sudarja Adiwikarta dan Akub Tisnasomantri, (1977), Geomorfologi jilid 1, Bandung
            Jurusan Pend. Geografi IKIP Bandung.

Diberdayakan oleh Blogger.