Jumat, 16 Desember 2011


BAB I
PENDAHULUAN
I.I LATAR BELAKANG

Fluvial merupakan aktivitas aliran sungai, terdapat empat macam sungai yaitu straight, anastomosing, meandering dan braided. Sungai anastomosing dipisahkan oleh pulau alluvial permanen, yang ditutupi tumbuhan yang lebat yang distabilisasi oleh bank sungai. braiding (anyaman) juga naik dengan cepat, fluktuasi cepat pada pemberhentian sungai, kecepatan tinggi dari pasokan sedimen kasar, dan mudah tererosi.
1.2 PEMBATASAN MASALAH
1.1.2 Morfologi hasil proses fluvial
1.1.2 Dasar dan syarat pembentukan morfologi hasil pengerjaan air tanah dan morfologi                                                                                                                                                                         karst   
1.3 PERUMUSAN MASALAH
1.1.3 Apakah yang di maksud dengan Morfologi hasil proses Fluvial ?
1.2.3 Apakah yang di hasilkan proses fluvial ?
               
 1.4 TUJUAN  PENULISAN
Untuk  menambah pengetahuan pembaca tentang Morfologi hasil proses fluvial,dasar dan syarat pembentukan morfologi hasil pengerjaan air tanah dan morfologi karst,sebagai referensi untuk pembaca.



BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Morfologi hasil proses fluvial
                Pada bagian terdahulu telah diuraikan bahwa air mengalir membawa material, mengikis ,dan mengendapkan di suatu tempat dimana tenaga sebagai pengangkut tidak lagi kuat. Material yang diendapkan tersebut baik bersifat sementara maupun untuk waktu yang lebih lama. Pengendapan akan dapat terjadi jika :
·         Lembah sudah ada pada tingkat keseimbangan dengan local base level atau common base level.
·         Terjadinya penenggelaman/pemerosotan hingga lembah tersebut menjadi lembah tenggelam atau lembah menjadi lebih landai.
·         Penangangkatan daerah laut dan dasar laut naik, sehingga seolah-olah aliran air terbendung pada daerah yang dekat dengan common base level yang menyebabkan terjadinya pengendapan.
·         Perubahan penutupan vegetasi.dalam hal ini jika di artikan daerah yang gundul/tandus erosi kuat dan bahan yang diangkut banyak.jika daerah yang dilalui vegetasinya lebat, maka erosi kecil dan muatan sedimen kecil, dan bahan yang diendapkanpun kecil.
·         Perubahan relief dari curam kedataran atau ke daerah yang lebih landai, sehingga terjadi proses pengendapan. Contohnya terbentuk endapan kipas fluvial.
·         Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan di atas, maka dapat dikemukakan bahwa sedimentasi itu dapat terjadi apabila:
a.       Daya angkut air yang mengalir berkurang sebagai akibat berkurangnya kecepatan pengaliran atau terhenti sama sekal, kemiringan lembah yang semakin kecil serta adanya rintangan-rintangan.
b.      Bahan yang diangkut berlebihan, sehingga daya angkut berkurang,morfologi hasil pengendapan sungai kurang mendapat perhatian dibandingkan dengan morfologi hasi erosi.
Hal ini disebabkan karena :
a.   Bentuk lahan hasil erosi lebih jelas,baik pada peta topografi maupun di lapangan.
 b.   Bentuk lahan asal bentukan erosi dapat meliputi daerah yang lebih luas dibandingkan dengan hasil pengendapan.
       Bentuk lahan bentukan asal proses fluvial ini berhubungan dengan daerah penimbaunan atau sedimentasi, misalnya pada lembah sungai dan dataran alluvial dengan tenaga geomorfologi yang utama adalah air. Ada beberapa hasil asa proses fluvial seperti dikemukakan berikut ini.
     1.Dataran alluvial                                      
     2.Tanggul alam
     3. Kipas alluvial
     4. Delta
     5. Ledok fluvial
     6. Sungai mati
     7. Dataran banjir
     8. Crevasse-Splaye
     9. Lakustrim
     10. Ras alluvial
     11. Rawa belakang
     12. Kipas fluvial
     13.Poin bars
Sungai yang mempengaruhi system fluvial adalah :
1.  Straight yaitu Suatu channel dengan bentuk straight didominasi oleh lempung dengan intensitas kelokan yang kecil, terbentuk karana perpindahan arus pada pasir atau kelompok-kelompok bar, segmen channel jarang terbentuk pada jarak yang panjang.
2.Anastomosing yaitu Sungai anastomosing dipisahkan pulau alluvial yang permanen dan ditutupi dengan tumbukan yang lebat yang distabilisasi oleh bank sungai. Braided (anyaman)juga naik dengan cepat, fluktuasi cepat pada pemberhentian sungai, kecepatan tinggi dari pasokan sedimen kasar dan mudah tererosi.
 3.Meander yaitu Sistem ini didominasi oleh material dengan butiran halus dan memperlihatkan distribusi butiran menghalus ke atas. Struktur sedimen yang berkembang merefleksikan berkurangnya arus yang bekerja, yaitu through cross bedding pada bagian bawah dan paralel laminasi pada bagian channel.

Penampang log elektrik merefleksikan arah umum menghalus ke atas yang terbagi ke dalam tiga subfasies utama yang menghasilkan pengendapan pada tiga sublingkungan yang berbeda
 1.Subfasies Flood Plain yaitu Subfasies flood plain terdiri dari endapan batupasir yang sangat halus, batulanau dan batulempung yang diendapkan pada daerah overbank floodplain sungai. Struktur sedimen yang berkembang adalah laminasi ripple mark dan kadang-kadang terdapat horizon batupasir yang mengisi struktur shrinkage yang diasumsikan terdapat pada daerah subaerial.
2. Subfasies Channel yaitu Pada subfasies channel terjadi perpindahan lateral channel meander yang mengerosi bagian luar dari tepi sungai yang cekung, menggerus dasar sungai dan endapan sedimen pada point bar. Proses tersebut menghasilkan karakteristik sikuen pada ukuran butir dan struktur sedimen. Pada dasar permukaan bidang erosi diisi oleh material sedimen berbutir kasar, mud pellet dan sisa-sisa kayu. Endapan tersebut disebut sebagai lag deposit pada dasar channel dan ditindih oleh sikuen batupasir dengan distribusi butiran menghalus ke atas.

3 .Subfasies Abandoned Channel yaitu Pada subfasies abandoned channel terdapat endapan batupasir halus berbentuk tapal kuda dan biasanya disebut oxbow lake yang terbentuk ketika sungai meander memotong bagian lain dari permukaan di sekitar sungai tersebut. Endapan pada subfasies ini serupa dengan endapan pada subfasies floodplain, tetapi dapat dibedakan dari geometrinya yaitu endapan yang menindih abrasi channel lag konglomerat tidak terdapat selang dengan sikuen batupasir point bar.
4. Braided yaitu Braided dihasilkan oleh channel dengan intensitas kelokan yang kecil dan kaya akan material pasir yang terbentuk oleh tingkat intensitas aliran air yang kecil diantara bar-bar channel. Struktur sedimen yang terbentuk dan merefleksikan pengendapan pada saat itu antara lain : tabular crossbedding, punggungan bar yang lurus memanjang dan pada log menunjukkan bentuk blocky.
 Pada daerah ini, pengerosian terjadi dengan cepat dengan proses pengisian sedimen yang cepat dikarenakan sungai pada sistem ini mempunyai kelebihan material sedimen. Siku
Dataran aluvial
           Dataran aluvial mempunyai topohgarfi dafatar sebagai hasil pengendapan alluvium di kiri kanan sungai.Endapan ini terjadi sebagai akibat adanya luapan air sungai yang membawa sedimen pada saat banjir.
Dengan demikian struktur endapannya adalah berlapis horizontal pada elevasi yang rendah.sungai mati ( oxbow, dan oxbow lake).terjadi sebagai akibat dari ditinggalkannya alur sungai utama, sehingga aliran air sungai terhenti atau berpidah ke alur sungai yang lain.
Pemotongan alur sungai ini terjadi karena sungai tersebut telah mengalami kelengkungan  (sinous), sungai yang telah mengalami terbentuknya meander.ada tiga cara pemotongan sungai yanag menyebabkan sungai tersebut ditinggalkan/mati yang membentuk dasar sungai mati  (abandoned river), yaitu Chu cut off,nech cut off, dan avulse.pada pemotongan sungai telah mengalami meandering tersebut akan membentuk senacam tapal kuda (oxbow), manakala oxbow ini terisi air dinamakan oxbow lake yang sering dikenal dengan danau tapal kuda.

Rawa belakang  
Rawa belakang (back swamp) merupakan salah satu dari bentuk lahan yang memiliki elevasi sangat rendah sehingga bentuk lahan ini pada awalnya di cirikan oleh adanya vegetasi air seperti eceng gondok, tanaman bunga terompet, tanggul alam (natural levee).bentuk lahan rwa belakang terkadang bias agak jauh dari sungai, tetapi sejajar dengan alur sungai yang masih aktif dan memiliki elevasi yang rendah di antara system fluvial yang lainnya. Bentuk lahan seperti ini disebut ledok alluvial.
Terjadinya meander tersebut umumnya disertai dengan pelebaran lembah (valley widening).ada dua proses yang  domainan dalam alur sungai yang mengalami meander tersebut sebagai akibat dari posisi tali arus (thalweg) yang tidak terletak ditengah penampang melintang lembah/sungai.lengkung bagian luar sungai disebut outer band yang mengalami erosi di bagian bawah tebing tanggul disebut under cut.sedangkan lengkung dalam disebut inner band yang sebaliknya mengalami deposisi pengendapan disebut point bar.

 Kipas alluvial
Bentuk lahan kipas alluvial mempunyai bentuk yang khas, yaitu seperti kerucut rendah merupakan hasil akumulasi sedimen berukuran bongkah, kerakal, kerikit, dan pasir yang terjadi pada suatu daerah dimana sungai mengalir yang mengalami perubahan gradient yang mencolok atau dari mering hingga terjal ke datar  atau hamper datar, bahan sedimen makin ke hilirmakin halus.
 Delta
Seperti halnya kipas alluvial, delta juga merupakan bentuk lahan yang berkaitan erat dengan kondisi daerah aliran sungai sebagai pemasokan sedimen. Perbedaannya adalah bahwa delta terletak di muara sungai pada laut dangkal.ada beberapa syarat untuk dapat berkembang tumbuhnya delta adalah sebagai berikut :
            a.Daerah aliran sungai yang luas
            b. Debit air sungai yang tinggi
            c. Muatan sedimen dalam jumlah besar
            d.Daerah humid
            e. Dasar laut dangkal
            f. Arus dan gelombang laut kecil
            g. Topografi pantai landai

Sistem delta
Delta merupakan garis pantai yang menjorok ke laut, terbentuk oleh adanya sedimentasi sungai yang memasuki laut, danau atau laguna dan pasokan sedimen lebih besar daripada kemampuan pendistribusian kembali oleh proses yang ada pada cekungan pengendapan (Elliot, 1986 dalam Allen, 1997). Menurut Boggs (1987), delta diartikan sebagai suatu endapan yang terbentuk oleh proses sedimentasi fluvial yang memasuki tubuh air yang tenang. Dataran delta menunjukkandaerah di belakang garis pantai dan dataran delta bagian atas didominasi oleh proses sungai dan dapat dibedakan dengan dataran delta bagian bawah didominasi oleh pengaruh laut, terutama penggenangan tidal. Delta terbentuk karena adanya suplai material sedimentasi dari sistem fluvial. Ketika sungai-sungai pada sistem fluvial tersebut bertemu dengan laut, perubahan arah arus yang menyebabkan penyebaran air sungai dan akumulasi pengendapan yang cepat terhadap material sedimen dari sungai mengakibatkan terbentuknya delta. Bersamaan dengan pembentukan delta tersebut, terbentuk pula morfologi delta yang khas dan dapat dikenali pada setiap sistem yang ada. Morfologi delta secara umum terdiri dari tiga, yaitu : delta plain, delta front dan prodelta.

 Delta plain
Delta plain merupakan bagian delta yang bersifat subaerial yang terdiri dari channel yang sudah ditinggalkan. Delta plain merupakan baigan daratan dari delta dan terdiri atas endapan sungai yang lebih dominan daripada endapan laut dan membentuk suatu daratan rawa-rawa yang didominasi oleh material sedimen berbutir halus, seperti serpih organik dan batubara.Pada kondisi iklim yang cenderung kering (semi-arid),sedimen yang terbentuk didominasi oleh lempung dan evaporit. Daratan delta plain tersebut digerus oleh channel pensuplai material sedimen yang disebut fluvial distributaries dan membentuk suatu percabangan. Gerusan-gerusan tersebut biasanya mencapai kedalaman 5-10 meter dan menggerussampai pada sedimen delta front. Sedimen pada channel tersebut disebut sandy channel dan membentuk distributary channel yang dicirikan oleh batupasir lempungan. Sublingkungan delta plain dibagi menjadi :
     

Pada bagian ini terletak diatas area tidal atau laut dan endapannya secara umum terdiri dari :
  1.Endapan distributary channel
             Endapan distributary channel ditandai dengan adanya bidang erosi pada bagian dasar urutan fasies dan menunjukkan kecenderungan menghalus ke atas. Struktur sedimen yang umumnya dijumpai adalah cross bedding, ripple cross stratification, scour and fill dan lensa-lensa lempung. Endapan point bar terbentuk apabila terputus dari channel-ya. Sedangkan levee alami berasosiasi dengan distributary channel sebagai tanggul alam yang memisahkan dengan interdistributary channel. Sedimen pada bagian iniberupa pasir halus dan rombakan material organik serta lempung yang terbentuk sebagai hasil luapan material selama terjadi banjir.

 2. Lacustrine delta fill dan endapan interdistributary flood plain
            Endapan interdistributary channel merupakan endapan yang terdapat diantara distributary channel. Lingkungan ini mempunyai kecepatan arus paling kecil, dangkal, tidak berelief dan proses akumulasi sedimen lambat. Pada interdistributary channel dan flood plain area terbentuk suatu endapan yang berukuran lanau sampai lempung yang sangat dominan. Struktur sedimennya adalah laminasi yang sejajar dan burrowing structure endapan pasir yang bersifat lokal, tipis dan kadang hadir sebagai pengaruh gelombang .

 3 Lower Delta Plain
           Lower delta plain terletak pada daerah dimana terjadi interaksi antara sungai dengan laut, yaitu dari low tidemark sampai batas kehadiran yang dipengaruhi pasang-surut. Pada lingkungan ini endapannya meliputi endapan pengisi teluk (bay fill deposit) meliputi interdistributary bay, tanggul alam, rawa dan crevasse slay, serta endapan pengisi distributary yang ditinggalkan.

4. Delta Front
        Delta front merupakan sublingkungan dengan energi yang tinggi dan sedimen secara tetap dipengaruhi oleh adanya proses pasang-surut, arus laut sepanjang pantai dan aksi gelombang. Delta front terbentuk pada lingkungan laut dangkal dan akumulasi sedimennya berasal dari distributary channel. Batupasir yang diendapkan dari distributary channel tersebut membentuk endapan bar yang berdekatan dengan teluk atau mulut distributary channel tersebut. Pada penampang stratigrafi, endapan bar tersebut memperlihatkan distribusi butiran mengkasar ke atas dalam skala yang besar dan menunjukkan perubahan fasies secara vertikal ke atas, mulai dari endapan lepas pantai atau prodelta yang berukuran butir halus ke fasies garis pantai yang didominasi batupasir. Endapan tersebut dapat menjadi reservoir hidrokarbon yang baik. Diantara bar pada mulut distributary channel akan terakumulasi lempung lanauan atau lempung pasiran dan bergradasi menjadi lempung ke arah laut.

           Menurut Coleman (1969) dan Fisher (1969) dalam Galloway (1990), lingkungan pengendapan delta front dapat dibagi menjadi beberapa sublingkungan dengan karakteristik asosiasi fasies yang berbeda, yaitu :

 1.Subaqueous Levees
        Merupakan kenampakan fasies endapan delta front yang berasosiasi dengan active channel mouth bar. Fasies ini sulit diidentifikasi dan dibedakan dengan fasies lainnya pada endapan delta masa lampau.
 2. Channel
    Channel ditandai dengan adanya bidang erosi pada bagian dasar urutan fasies dan menghalus ke atas.
 3 Distributary Mouth Bar
      Pada lingkungan ini terjadi pengendapan dengan kecepatan yang paling tinggi dalam sistem pengendapan delta. Sedimen umumnya tersusun atas pasir yang diendapkan melalui proses fluvial.
 4 Distal Bar
       Pada distal bar, urutan fasies cenderung menghalus ke atas, umumnya ersusun atas pasir halus. Struktur sedimen yang umumnya dijumpai antara lain : laminasi, perlapisan silang siur tipe through
.5. Prodelta
           Prodelta merupakan sublingkungan transisi antara delta front dan endapan normal marine shelf yang berada di luar delta front. Prodelta merupakan kelanjutan delta front ke arah laut dengan perubahan litologi dari batupasir bar ke endapan batulempung dan selalu ditandai oleh zona lempungan tanpa pasir. Daerah ini merupakan bagian distal dari delta, dimana hanya terdiri dari akumulasi lanau dan lempung dan biasanya sendiri serta fasies mengkasar ke atas memperlihatkan transisi dari lempungan prodelta ke fasies yang lebih batupasir dari delta front. Litologi dari prodelta ini banyak ditemukan bioturbasi yang merupakan karakteristik endapan laut. Struktur sedimen bioturbasi bermacam-macam sesuai dengan ukuran sedimen dan kecepatan sedimennya. Struktur deformasi sedimen dapat dijumpai pada lingkungan ini, sedangkan struktur sedimen akibat aktivitas gelombang jarang dijumpai. Prodelta ini kadang-kadang sulit dibedakan dengan endapan paparan (shelf), tetapi pada prodelta ini sedimennya lebih tipis dan memperlihatkan pengaruh proses endapan laut yang tegas.
 
2.2 Dasar dan Syarat Pembentukan Morfologi Daerah Karst
           Batu gamping ( limestone ) mudah di larutkan dalam air, berlangsung secara cepat dan kuat bila air lebih banyak mengandung karbon dioksida atau CO2.air hujan yang mula-mula mengambil karbon dioksida di udara,kemudian setelah mencapai permukaan tanah mendapat tambahan CO2 dari material yang ada di permukaan tanah tersebut.
           Ada beberapa syarat untuk dapat berkembangnya topografi karst sebagai akibat dari proses pelarutan adalah sebagai berikut :
           a.Terdapatnya batuan yang mudah larut ( Batu gamping dan dolomite )
           b. Batu gamping dengan kemurnian yang tinggi
           c. Mempunyai lapisan yang tebal
           d.Banyak terdapat diaklas ( retakan )
e. Ada pada daerah tropis basah
           f .Vegetasi penutupnya lebah
           Pada  kondisi demikian batu gamping dan dolomite mudah mengalami pelarutan oleh air yang mengalir yang akhirnya membentuk topografi karst.kenampakan topografi karst meruapak fenomena alam yang unik dan spesifik,baik yang ada dipermukaan maupun yang ada di bawah permukaan tanah. Seperti yang dikemukan oleh jenings (1971) dalam Suprapto (1997 : 91) menyatakan bahwa derah karst merupakan suatu kawasan yang mempunyai karakreristik relief dan drainase yang khas,terutama disebabkan oleh larutan batuan ( batu gamping dan dolomite ) yang tinggi oleh air.larutan batuan ( batu gamping dan dolomite ) yang tinggi oleh air.
           Seperti di atas telah dikemukakan bahwa salah satu syarat yang menentukan terbentuknya daerah karst adalah retakan-retakan (joint-joint). Oleh karena joint ini menjadi penentuan yang cukup penting terbentuknya daerah karst,sebab dengan adanya kekar/joint ini air dapat masuk ke dalam batuan gamping dan bergerak ke bawah. Air yang masuk kedalam batu gamping/dolomite tersebut sambil melarutkan batuan tersebut dan melalui proses pelarutan tersebut, retakan-retakan di perlebar hingga kadang-kadang air yang mula-mula mengalir di atas pelarutan dapat berkerja dengan intensif diperlukan curah hujan yang cukup hingga tinggi, serta temperature yang tinggi pula.permukaan, kemudian men meresap dan menghilang terutama sungai-sungai kecil.
           Vegetasi yang rapat juga membantu proses pelapukan solusional menyebabkan perkembangan karst, karena vegetasi menyediakan bahan organik yang berbentuk humus dan bersama-sama dengan respirasi akar tanaman dapat menimbulkan tingkat konsentrasi karbon dioksida di dalam tanah sekitar 30%. Difusi karbondioksida ke dalam air melalui seluruh tanah membantu meningkatkan intensitas pelarutan yang tinggi bentukan topografi yang terutama di sebabkan oleh proses pelarutan oleh air terutama oleh kimiawi, meskipun cara mekanisme juga terjadi. Kenampakan tersebut di sebut dengan topografi karst.istilah karts diambil dari perkataan Yugoslavia : karst berarti batuan.
           Di pantai Andriatik sebelah timur yang termasuk daerah yang terdiri dari batu gamping (limostone) dan dolomite, terjadi pula pada derah dengan batuan lain yang mudah larut, seperti garam batu dan lain-lain, tetapi terdapat dalam jumlah yang sangat sedikit sekali dipermukaan bumi





BAB III
PEMBAHASAN
3.1 KESIMPULAN
Fluvial merupakan aktivitas aliran sungai, terdapat empat macam sungai yaitu straight, anastomosing, meandering dan braided.
Pada bagian terdahulu telah diuraikan bahwa air mengalir membawa material, mengikis ,dan mengendapkan di suatu tempat dimana tenaga sebagai pengangkut tidak lagi kuat. Material yang diendapkan tersebut baik bersifat sementara maupun untuk waktu yang lebih lama. Bentuk lahan bentukan asal proses fluvial ini berhubungan dengan daerah penimbaunan atau sedimentasi, misalnya pada lembah sungai dan dataran alluvial dengan tenaga geomorfologi.
.Bahan yang diangkut berlebihan, sehingga daya angkut berkurang,morfologi hasil pengendapan sungai kurang mendapat perhatian dibandingkan dengan morfologi hasi erosi.Daya angkut air yang mengalir berkurang sebagai akibat berkurangnya kecepatan pengaliran atau terhenti sama sekal, kemiringan lembah yang semakin kecil serta adanya rintangan-rintangan.
3.2 Saran
Makalaan  ini secara khusus membahas tentang Morfologi hasil proses fluvial dan dasar dan syarat pembentukan morfologi daerah karts, dimana isinya telah kami ringkas secara sistematis dan diketik menggunakan pola bahasa yang sederhana.sehingga diharapkan makalah ini dapat menambah wawasan bagi pembaca dan dapat dijadikan inspirasi bagi pembaca untuk lebih mengembangkan lagi.semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi pembaca dan bisa menambah pengetahuan pembaca tentang yang kami tulis diatas.




DAFTAR PUSTAKA
sumber : Sugiyanto I gede.M.Si.Drs/ ilmu pendidikan  univ lampung 2003

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.